MP3 Clips

Sunday, April 18, 2010

Strategi dan Roadmap (Peta Jalan) adalah dua hal yang sangat penting dalam menuju ke suksesnya suatu usaha atau bisnis, baik itu skala kecil maupun skala besar, nasional.

Di zaman kejayaan kekaisaran Roma memang banyak sekali jalan-jalan raya (Via - bahasa Italia) yang dibangun untuk menuju ke Ibukota Kekaisaran Roma sebagai pusat perekonomian dan peradaban dunia saat itu. Namun hanya ada satu jalan yang lurus dan pendek, sehingga lebih cepat ditempuhnya. Banyak jalan yang panjang dan beliku-liku, sehingga akan lebih lama ditempuhnya. Tanpa peta jalan yang baik, maka akan sering kita tersesat.

Tanpa strategi yang tepat yang diterjemahkan dalam bentuk Peta Jalan (Roadmap), maka kita akan kalah bersaing dan gagal dalam mencapai sasaran-sasaran usaha (goals). Kita sering melihat kegagalan suatu usaha karena memang mereka belum punya strategi dan Roadmap yang tepat untuk memenangkan persaingan dan mencapai sasaran mereka.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar kalau Garuda dan Merpati merugi dan kalah bersaing dengan perusahaan baru asal negeri jiran, yaitu Air Asia yang memilki strategi jitu untuk memenuhi tempat duduk pesawat setiap penerbangan, sehingga dapat memasang tarif yang sangat kompetitif, serta mereka tidak menyediakan makanan di pesawat yg merepotkan operasionalnya.

Kita juga terkaget-kaget mendengar berita minggu lalu kalau PT KAI harus menutup layanan KA Parahyangan yang dahulunya menjadi cash-cow PT KAI, sebab kalah bersaing dengan layanan travel mobil yang menjadi kompetitif dengan adanya jalan toll Cipularang.

Bagaimanakah situasi persaingan di bidang telematika? Nokia dan BlackBerry yang lama mendominasi pasar Smartphone Indonesia mendapat serangan gencar dari Smartphone Qwerty buatan Cina dan Taiwan dengan produk BlackBerry-like, seperti BlueBerry, RedBerry, CherryBerry, dll, yang jauh lebih murah (dibawah Rp 1 jutaan), Qwerty keyboard, dan penuh dengan fitur2 canggih: Dual GSM on, TV, FM, Video, camera, WiFi, FB, Twitter, YM, Skype, dll. Ini dimungkinkan berkat software Java yang sangat canggih.

Di sisi lain, Smartphone iPhone dari Apple Computers mendapat tantangan dari pendatang baru, yaitu Smartphone berbasiskan Operating System Android yang Open Source, sehingga membuat harga iPhone turun terus secara perlahan tetapi pasti.

Para operator telekomunikasi Indonesia yang jumlahnya ada 12 saat ini sedang kebingungan untuk mencari strategi dan Roadmap yang tepat untuk menghadapi persaingan diantara mereka sendiri yang sangat ketat, sehingga untuk tetap survive dan menambah jumlah pelanggan mereka harus melakukan banting harga yang terus menggerogoti margin laba dari waktu ke waktu. Sampai kapankah mereka akan tetap bertahan? Kunci untuk dapat melepaskan diri dari spiral yang menuju ke titik dasar adalah: merubah persaingan yang hanya sekadar menjadi penyedia jaringan, ke layanan-layanan yang bernilai tambah, mutu yang lebih baik, layanan data, aplikasi2 baru dan kontent, antara lain mobile advertising, mobile commerce, mobile payment, eLearning, eGov dengan memanfaatkan jejaring sosial yang makin banyak anggotanya.

Bagaimanakah dengan strategi dan Roadmap Broadband di Indonesia? Memang akan ada porsi layanan Fixed Broadband (atau nomadic) dan Mobile Broadband. Namun dilihat dari tren jumlah pelanggan seluler di Dunia maupun di Indonesia yang saat ini sudah mencapai 170 juta orang yang terdaftar, jauh melebihi pelanggan Fixed atau Nomadic Broadband, maka kita perlu untuk memperhatikan perkembangan mobile broadband itu.

Bila sebuah perangkat Terminal (CPE) sudah memenuhi persyaratan Mobile Broadband, maka secara otomatis perangkat tersebut sudah pula memenuhi atau melebihi persyaratan untuk Fixed atau Nomadic Broadband. Pemerintah Indonesia saat ini sudah melakukan tender operator Fixed dan Nomadic Broadband dengan layanan WiMAXstandar 16d khas Indonesia, namun operator pemenang tender yang sudah mulai melaksanakannya adalah yang pada pita frekwensi 3,3 GHz, sedangkan yang pada pita frekwensi 2,3 GHz masih terus berfikir-fikir, maju mundur, sebab mereka takut investasi mereka tidak akan dapat kembali.

Sementara itu di pasar global pada pita 2,3 GHz dan 2,5 GHz telah mulai diproduksi perangkat CPE yang telah dilengkapi (embedded) dengan modem WiMAX standar 16e yang mobile dengan efisiensi penggunaan pita yang tinggi dan operasional yang sangat mudah dipakai dan inter-operable, dengan harga yang sangat kompetitif, yaitu: laptop, netbook, Smartphones, iPhone, iPad, dll, sesuai standar 4G.

Perangkat2 tersebut memang membutuhkan kecepatan transmisi yang tinggi, diatas 20 Mbps agar menjadi bermanfaat bagi pemiliknya. Perangkat2 tersebut menjadi sangat kurang manfaatnya bilamana kecepatannya lelet, dan menjengkelkan bagi pengguna. Mereka jengkel karena sudah beli mahal, tetapi tidak sesuai dengan fitur2 yang tersedia.

Lalu apakah definisi Boadband? Bagi orang awam, adalah seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Mastel, pak Setyanto P Santosa, yaitu bila kita tekan tombol keyboard, maka secara instant akan muncul hasilnya (misalnya gambar, konten web, dsb). Bila lelet, maka jelas itu bukanlah kecepatan Broadband.

Sementara itu di banyak negara termasuk di Indonesia sudah mulai diuji-coba jaringan dan CPE LTE (Long Term Evolution) sebagai evolusi akhir dari jaringan dan perangkat 3G dan 3.5G (HSDPA, HSPA+, CDMA 2001X EV/DO).

Bagaimanakah Strategi dan Roadmap menuju ke layanan LTE atau WiMAX Standar 16m yang sepadan ini? Tentu perlu dipersiapkan langkah-langkah dan milestones yang tepat, seperti alokasi pita frekwensi yang diperlukan, peraturan perundangan, pilihan teknologi untuk memungkinkan kemajuan industri DN dan sebagainya agar jalan menuju ke Roma itu tidak berliku-liku panjang dan melelahkan, membuat masyarakat pengguna kehilangan momentum untuk memajukan perekonomian nasional yang diklaim tiap sekian persen penetrasi Broadband akan meningkatkan sekian persen GDP.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsadan negara.

Saturday, December 26, 2009

Layanan jasa telekomunikasi berpita lebar (broadband) di Indonesia telah mengalami perbaikan dibandingkan dengan dengan layanan yang sama beberapa tahun yang silam, dalam hal mutu layanan maupuin tarif yang sudah terjangkau masyarakat. Yang cukup baik adalah layanan broadband wired (kabel tembaga atau serat optik) yang sudah banyak tersedia di kota-kota besar Indonesia, seperti Fastnet dari Firstmedia, Metronet, ADSL/Speedy dari Telkom, dan lainnya. Untuk layanan jenis ini, tarifnya dimulai dari sekitar Rp 200.000 per bulan flat dengan kecepatan 512 kbit/detik dan volume data sampai 2 Gbyte.

Layanan jasa broadband wireless yang saat ini banyak digunakan oleh mayarakat luas adalah dengan memanfaatkan layanan 3G dari operator GSM maupun operator CDMA. Layanan ini memang pada awalnya kurang memuaskan karena keterbatasan pita frekwensi yang dialokasikan, dan karena gencarnya pemasaran jasa ini tanpa menambah kapasitas layanan.

Dengan penambahan pita 3G oleh tiga operator besar, yaitu Telkomsel, Indosat dan XL pada tahun 2009, maka layanan broadband melalui 3G atau 3.5G (HSDPA, HSUPA, HSPA) sudah makin membaik. Kecepatan transmisi yang diperoleh memang sudah bisamencapai sekitar 1 Mbit/detik untuk waktu-waktu tertentu, namun pada jam-jam sibuk, layanan sering menjadi lelet sehingga sulit untuk dipakai untuk browsing Internet, membuat frustasi pelanggan. Layanan broadband wireless di Indonesia memang menggunakan konsep "best effort", sebab para operator mengandalkan sebuah kapasitas yang dipakai bersama oleh para pelangan, sehingga pada jam-jam sibuk, kecepatan transmisi layanan menurun secara proporsional dengan jumlah pengguna pasasatu saat. Pelanggan perlu diberikan penjelasan yang jujur tentang hal ini, sebab bila tidak, maka mereka akan mengeluhkan layanan ini.

Tarif layanan data menggunakan 3G yang ditawarkan kepada pelanggan bervariasi, mulai dari Rp 150.000 per bulan flat sampai dengan volume data sebanyak 2 Gbyte dengan kecepatan maksimum sekitar 256-512 kbit/detik. Bila quota volume data yang dipakai terlewati, maka kecepatan transmisi diturunkan menjadi maksimum 64 kbit/detik.

Para operator CDMA yang menawarkan layanan data/Internet masih mempromosikan layanan mereka sebagai yang tercepat, sebab jumlah pelanggan mereka yang relatif masih sedikit.Namun akhir-akhir ini para pelanggan sudah mulai merasakan apa yang diklaim itu makin kurang benar dengan makin banyaknya pelanggan yang terdaftar.

Perbandingan tarif broadband dengan negara maju dan negara-negara tetangga dapat dilihat pada grafik terlampir yang disusun oleh ITU beberapa waktu yang lalu.




Grafik Perbandingan Tarif
Layanan Broadband LN vs Indonesia:






Indonesia baru saja menetapkan 8 Operator layanan Broadband Wireless Access menggunakan WiMAX dengan standar khas Indonesia berbasis IEEE 802.16d (2004). Oleh karena supplier perangkat WiMAX ini hanya dapat diperoleh dari 2 atau 3 Vendor asal Indonesia dengan kapasitas produksi yang relatif kecil sehingga belum mencapai skala produksi massal, maka diperkiralkan nilai CAPEX untuk perangkat BTS maupun CPE akan masih tinggi. Dengan demikan maka tarif dari para operator WiMAX Indonesia akan menjadi tinggi.

Sebagai perbandingan dengan tarif broadband WiMAX di negara tetangga dapat dilihat pada tabel dibawah ini.




Tabel Tarif
Layanan WiMAX dan Broadband di Malaysia:

;;